[+] Follow

Posted on: Selasa, 10 Mei 2011 @ 8:39 PM | 0 footprint(s)
Fase Hampa



Fase hampa.
Kami- aku dan sahabatku- menyebutnya Fase Hampa. Sebuah masa di mana hanya kehampaan yang bertahta di setiap sudutnya. Kami berdua sepasang sahabat yang berlomba untuk mencapai fase itu. Melupakan sekeping hati yang terabaikan oleh cinta tak terbalaskan.



Sahabatku.

 Aku mencintaimu, entah bagaimana makhluk sepertimu bisa dengan mudahnya mencairkan bekunya hatiku. Aku ingin memilikimu, walau aku tahu bahwa kau hanyalah angan yang tidak akan mungkin menjadi sebuah kenyataan. Perasaan ini, sudah terlalu dalam. Namun tidak sedalam milikmu padanya. Perasaanmu untuknya. Bukan untukku.
Aku mencintaimu. Tapi sulit bagiku untuk membawamu keluar dari bayang-bayang masa lalumu. Mungkin lebih baik aku yang keluar dari hidupmu. Karena bagimu aku hanyalah secuil debu yang akan hilang tak membekas jika diterpa hembusan angin. Sedangkan dia adalah bagian dari hidupmu, masa lalumu yang kau puja sebagai bidadari yang paling mengerti dirimu sekalipun kau terus disakiti olehnya.
Aku akan berhenti berharap. Untuk apa masih bertahan sedangkan dirimu tak pernah memperhatikan?! Aku tidak akan lagi mengindahkanmu. Aku tidak akan lagi menghabiskan malam-malamku hanya untuk membayangkan dirimu yang sedikit pun tak pernah mengingatku. Biarlah aku yang terluka. Karena satu dari setiap luka akan menuntunku menuju CINTA...



Aku.

Harus kuakui bahwa aku kecewa. Hari-hari yang dulu kita lewati ternyata hanyalah sebuah kebohongan besar. Big Bullshit. Kau bilang cinta itu akan selalu ada. Harusnya aku tahu bahwa lidahmu itu beracun. Yeah, kau pembohong besar!!! Dan aku seorang pecundang.
Kau memanfaatkanku. Berpura-pura mencintaiku padahal sebaliknya. Kau tidak pernah merasakan perasaan itu.
Jujur, aku benci melihat wajah-tanpa-dosa mu itu. Mata coklatmu yang memuakkan, menusuk tajam, menancapkan luka yang kini bersarang di hatiku.
“Aku sayang kamu” hanyalah rangkaian kata-kata tanpa makna yang keluar dari lisanmu. Lidah beracun-mu.  Bisakah kau bayangkan betapa pedihnya luka yang kau goreskan secara cuma-cuma?!
Mungkin aku adalah pelampiasan dari otak bengismu itu. Mungkin aku bukan bagian dari hatimu. Aku mengerti itu. Itulah sebabnya kau tak pernah ada untukku. Karena dalam hatimu, hanya namanya yang ada di sana. Selalu. Bukan aku yang dengan bodohnya mencintaimu. Bukan aku yang rela menguras air mata untukmu. Bukan aku.
Kau memang sudah pergi dari hatiku. Tapi tidak dari hadapanku. Kau senantiasa berlarian di depan mataku, membuat mataku lelah menahan emosi yang ingin meledak. Hal ini membuatku harus berusaha dua kali lebih ekstra untuk menghilangkan perasaanku untukmu. Dan pada akhirnya aku telah sampai pada sebuah titik kosong dalam fase kehampaan. Tapi pusarannya  kini berusaha menarikku kembali ke tanah masa lalu yang mengubur kenangan tentang kita. Tentang masa yang telah punah antara aku dan kamu.

Back to top


Copyright ©. Layout by SekarYoshioka. Header : Pixiv and edited by SekarYoshioka. Please view it with Google Chrome 1024*768. All rights reserved.
F
o
l
l
o
w
H
o
m
e