![]()
|
Posted on: Selasa, 03 Mei 2011 @ 10:19 PM | 0 footprint(s)
Kepada BOS Yang Terhormat !
Dear, BOS... Saya sebenarnya tidak ingin ini terjadi. Tapi sikap Anda belakangan ini yang membuat saya berpikir dua kali. Saya tahu, mungkin Anda sulit menerima keputusan saya untuk berhenti dari 'perusahaan' Anda. Anda tahu, 'perusahaan' Anda itu membuat saya nyaris 'bangkrut'. Tenaga saya habis terkuras percuma karena tindakan Anda yang semena-mena. Pasti sebentar lagi Anda bertanya; semena-mena bagaimana? Halaahh... bos, jangan terlalu naif. Kelakuan Anda itu sudah menjadi rahasia umum. Tidak perlu Anda tutup-tutupi lagi. Semakin Anda menyembunyikan keotoriteran Anda, semakin nampak pula kepengecutan yang bersembunyi di balik mulut besar Anda. Hei, jangan Anda pikir ini ada hubungannya dengan orang-orang yang Anda tuduh telah mencuci otak saya. Bukan, bos. Malah saya yang mengajak mereka bersama-sama minggat dari 'perusahaan' Anda itu. Perusahaan yang tanpa sengaja mencuci otak-otak kreatif dengan bahasa 'sastra' yang berasal entah dari planet mana. Sayang sekali ya, bos. Padahal 'perusahaan' Anda itu sedang dalam masa-masa terangnya, dimana Anda dengan bangganya memamerkan kepada seluruh jagad raya bahwa betapa suksesnya Anda MEMBANGUN 'perusahaan' Anda ini tanpa melihat kami yang dengan dongoknya menjadi pondasi untuk menopang Anda yang senantiasa berdiri di atas. Waw, hebat! Bahkan Anda mungkin lupa (atau pura-pura lupa) bahwa Anda bukanlah dalang di balik berdiri tegak-nya 'perusahaan' Anda. Mungkin setelah ini, Anda akan menaruh dendam pada saya. Tidak masalah. Saya sudah terbiasa, bos. Cuap-cuap Anda yang memang saya akui selalu membuat saya meringis itu hanyalah omong kosong. Bagai tong kosong yang nyaring bunyinya. Saya tidak menghina, bos. Saya hanya berusaha mengungkapkan apa yang saya pendam selama saya bekerja di 'perusahaan' Anda yang penuh dengan perbudakan tidak jelas. Jika Anda berkata bahwa saya merasa iri pada pencapaian Anda yang kata Anda itu semua mutlak karena Anda berbakat, maaf, saya tidak. Jika Anda berkata bahwa saya adalah manusia yang tidak tahu berterima kasih, maaf, hal itu perlu dipertanyakan lagi. Sejujurnya, saya sangat menyukai sikap Anda. Otoriter, keras, nyolot, egois, sok tahu, tidak menghargai orang lain, tidak bertanggung jawab, perfeksionis, pengecut, ambisius... hmm, apa lagi ya? Haahh, terlalu banyak, bos! Saya tidak sanggup menuliskannya. Tapi intinya, Anda sangat baik... (baik untuk dibuang, maksudnya... :)) Sebelum dan sesudahnya, saya meminta maaf setulus-tulusnya dari hati yang terdalam. Semoga dengan pengunduran diri saya ini bisa membuat Anda menemukan seorang yang baru yang semoga saja jauh lebih baik dari saya dan lebih sabar tentunya. Oh ya, saya harap 'perusahaan' Anda bisa menjadi semakin sukses. Good luck, ya BOS! Salam Jari Tengah, LAY-OUTER
|