![]()
|
Posted on: Sabtu, 07 Mei 2011 @ 9:46 PM | 0 footprint(s)
Kumohon Jangan Menoleh Lagi ...
Dan lagi. Aku melihatnya. Matamu. Membuat imajinasiku melayang bersama logika yang menggantung. Mata coklat itu... penuh luka. Pantulan luka, tepatnya. Pantulan luka dari sudut mataku yang setiap berhadapan dengan mata coklat-mu itu selalu ingin mengeluarkan kesedihannya, kemarahannya yang telah menumpuk menjadi kebencian. Matamu. Bisakah kau menjaganya? Jangan pernah menoleh! Melihatmu hanya membuatku muak, sekaligus menyusahkan diriku yang senantiasa menahan luapan emosi yang masih tertinggal sejak hari itu. Hari ketika kau harus membuatku pergi dan bertingkah seolah-olah aku tidak pernah mengenalmu. Hari ini, aku sudah berjalan sangat jauh. Aku telah sampai pada suatu fase di mana nama-mu sudah lenyap dari kamus hidupku. Tapi kenapa? Kenapa mata coklat itu seakan memanggilku untuk sekali lagi menapaki masa lalu dan menyusuri kembali jejak langkahku yang mungkin telah diterbangkan angin bersama semua kepingan kisah yang tidak sempurna. Aku tidak ingin kembali. Benar-benar ingin tetap di sini. Di fase ini. Tanpa kamu, juga dia, atau siapa pun yang pernah dengan mudahnya keluar-masuk melalui pintu hatiku. Aku sudah menguncinya. Jadi siapa pun itu akan sulit membuka pintu yang terkunci rapat. Kecuali jika kau menemukan kuncinya...
|