![]()
|
Posted on: Selasa, 14 Juni 2011 @ 4:19 PM | 0 footprint(s)
Masih Membenci Tanpa Sebab
Untuk melupakan sejenak hal-hal yang berbau dia dan mereka yang hanya menimbulkan pertentangan di dalam batinku, akhirnya saya memutuskan untuk berjelajah ke sebuah tempat yang menyediakan deretan rak yang berisi buku-buku. Seperti biasa, rak pertama yang akan saya hampiri ketika menginjakkan kaki di sana adalah sebuah rak yang bertuliskan novel. Saya meraih dua buah novel yang judulnya berbeda, tentu saja. Membayar novelnya, kemudian bergegas keluar. Di gerbang toko buku itu, langkah saya terhenti oleh sesuatu, tepatnya seseorang. Dia yang selama ini berusaha kuhindari, dia yang selama ini berusaha untuk tidak lagi kuhubungi, dia yang merupakan salah satu alasanku untuk mengakhiri hubunganku dengan aL, kini muncul tiba-tiba dihadapanku dengan tidak sengaja bersama teman-temannya yang lain yang masih berseragam putih-abu abu. Tahu siapa aL itu? Hmm, kurasa tidak ada satu kata pun yang bisa mendeskripsikan dia. Kembali ke dia yang seperti hantu. Dia bukan cowok. Dia mantan sahabat. Namanya.... ah, tidak perlu disebutkan. Dia itu menjengkelkan. Berbulan-bulan tidak bertemu, tiba-tiba ada pesan dari dia yang berisi kata-kata bahwa saya bukan teman yang baik. Katanya, saya menceritakan hal buruk tentang dia dari belakang. Dia berkata seperti itu tanpa menyertakan bukti satu pun! Kalau memang saya harus bercerita tentang dia, maka yang saya ceritakan adalah dia yang selalu berpura-pura bodoh padahal sebenarnya tidak, dia yang konyol, yang humoris, yang membuat saya berhenti sejenak dari lamunan panjang tentang masalah-masalah kecil yang menimpa saya kemudian tertawa sekeras-kerasnya karena ulahnya. Bukan cerita yang berisi dia yang bersahabat dengan pacar saya (sekarang mantan) dan membuat saya cemburu setengah hidup. Huh, bertemu kembali dengannya membuat pikiranku memutar kembali kenangan-kenangan masa lalu. Saya hampir menangis tadi. Untung saja, gengsi dan ego saya berjuang mati-matian untuk menahan air mata itu keluar. Saya tidak tersenyum padanya, apalagi menyapanya. Terlalu tabu untuk kulakukan. Setelah sms-sms itu, saya jadi illfeel sama dia yang menelan mentah-mentah pernyataan dari seseorang yang saya juga tidak tahu siapa tanpa ada dasar sama sekali. Mungkin beberapa tahun yang akan datang, saya bertemu dengan dia. Dan saya yakin, semuanya akan tetap sama seperti ini. Tidak ada senyum, apalagi sapa. Maaf, dendam masih saya genggam erat-erat. Mungkin juga dia, masih membenci tanpa sebab.
|