[+] Follow

Posted on: Sabtu, 04 Juni 2011 @ 12:16 PM | 0 footprint(s)
Maybe... (Just Maybe...)


Mungkin memang benar bahwa kau akan benar-benar mengerti betapa seseorang itu begitu berharga setelah dia pergi.

Dan aku merasakannya sekarang.

Bisakah kau juga merasakannya?

Dia. 
Aku tidak tahu apa aku menyukainya atau tidak. Saat dia tepat berada di hadapanku, aku ingin dia segera menyingkir dan tidak akan pernah kembali lagi. Tapi setelah bayangannya benar-benar lenyap, aku tiba-tiba diserang perasaan menginginkannya lebih dari apapun. Rindu, mungkin... atau... entahlah. Sangat sulit mendefinisikannya.

       Hei, untuk kau yang MUNGKIN sedang rindu.......

Sudah enam tahun.

Wah, tidak terasa... kita tumbuh secepat ini. Masih ingat dengan cinta monyet yang kuutarakan padamu dulu? Hahaha, lucu ya. Terkadang aku masih menginginkan masa-masa itu, seperti anak kecil yang menginginkan permennya.

Ketika kubiarkan kau membuka loker hatiku, pasti kau akan menemukan namamu di salah satu sudutnya. Namamu, dan setumpuk kenangan yang usang.

Aku tidak ingin mencintaimu. Karena seharusnya memang begitu.

Kau tahu, ketika memutuskan untuk mencintai seseorang maka harus bersedia untuk terluka. Aku belum bersedia untuk terluka karena kau. Kau terlalu spesial. Dan aku tidak ingin membenci seorang spesial sepertimu hanya karena alasan TERLUKA.

Aku hanya berharap, suatu hari nanti... Kau datang. Entah kapan.

Mungkin... (cuma mungkin, ya...) aku mulai melepaskan sifat 'keras kepala'ku yang selalu bertahan dengan satu kalimat "AKU TIDAK MEMILIKI PERASAAN APA-APA TERHADAPMU"

Back to top


Copyright ©. Layout by SekarYoshioka. Header : Pixiv and edited by SekarYoshioka. Please view it with Google Chrome 1024*768. All rights reserved.
F
o
l
l
o
w
H
o
m
e