[+] Follow

Posted on: Rabu, 21 September 2011 @ 11:50 PM | 0 footprint(s)
Citra

Diam-diam aku mengaguminya. Dengan mudah aku selalu bisa mengerti isi hatinya, meski aku selalu berpura-pura menjadi bodoh dan tidak mengerti apa-apa.
Diam-diam aku berharap bahwa dia juga seperti itu. Tanpa harus kuucapkan, dia lebih dulu mengerti maksudku. Tanpa harus ku teteskan air mata, dia lebih dulu tahu bahwa aku bersedih.

Aku selalu mengira bahwa dia adalah salah satu makhluk ter-egois yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Kukira dia tidak pernah mengertiku. Kukira dia tidak akan pernah bisa membaca pikiranku. Kukira dia yang akan menjadi orang terakhir yang akan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Ternyata, aku selalu salah.
Dia selalu ada. Dan aku baru sadar itu.
Dia selalu ada. Berada di belakangku ketika aku butuh dorongan untuk maju. Berada di depanku ketika aku butuh perisai sebagai perlindunganku. Dan berada di sampingku ketika aku butuh sandaran untuk tangisku.

Aku menyayanginya. Sebagai kakak, sahabat, dan kadang-kadang menjadi seperti adik ketika sikap manja-nya nampak.

Sayangnya, ada satu hal yang aku benci darinya. Aku benci ketika dia membicarakan seseorang yang dia cintai. Seseorang yang membuatnya luka, namun tidak pernah sedikit pun dia sanggup untuk melupakannya. Dia selalu membicarakannya. Itu membuatku benci sekaligus bosan. Aku benci, bukan karena aku cemburu.
Hanya saja, ketika dia membicarakan hal itu, aku seperti diingatkan dengan kebodohanku. Aku seperti mendengar pantulanku sendiri di cermin bercerita tentang seorang perempuan gila yang disumbat pikirannya dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Back to top


Copyright ©. Layout by SekarYoshioka. Header : Pixiv and edited by SekarYoshioka. Please view it with Google Chrome 1024*768. All rights reserved.
F
o
l
l
o
w
H
o
m
e