![]()
|
Posted on: Minggu, 08 April 2012 @ 11:50 AM | 0 footprint(s)
[HOLIDAY WRITING CHALLENGE] Pindahkan Genrenya!
Judul Novel : Orange Penulis : Windry Ramadhina Halaman : 219-220 Zaki menarik lengan Faye. Baju gadis itu basah. “Kau basah semua, Faye!” ujarnya, lalu menempelkan punggung tangannya ke wajah Faye. “Dan badanmu panas. Nanti saja kita cari setelah air surut.” “Tidak!” nada bicara Faye tiba-tiba berubah tinggi. Ditepisnya tangan Zaki dengan kasar. “Aku harus menemukannya sekarang!” Ditatapnya mata Faye dengan bingung. Mata itu membalasnya. Begitu tajam. Begitu mengerikan. Belum pernah dilihatnya Faye diliputi emosi seperti itu dan, mau tidak mau, Zaki menjadi ketakutan. Ia menuruti kemauan gadis itu. “Oke, akan kubantu,” ujar Zaki. Berdua mereka mencari kotak yang dimaksud oleh Faye. Setiap waktunya, Zaki menyadari genangan air di sekeliling mereka bertambah tinggi, namun Faye tidak peduli. Gadis itu membuka lemari yang ada satu per satu. Zaki diliputi rasa takut yang berlebih melihat Faye dengan sorot mata yang mencekam memeriksa setiap sudut ruangan, membanting setiap barang yang menghalanginya, mengutuk air yang membanjiri ruang bawah tanahnya. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran gadis itu. Zaki khawatir Faye akan bertindak nekat kali ini. Setengah jam waktu berlalu sampai akhirnya ia berhasil menemukan sebuah kotak kayu tua yang tadi disebutkan oleh Faye di dalam sebuah lemari. “Faye, ini yang kau cari?” Faye menghampirinya segera. Gadis itu merebut kotak di tangan Zaki. Dengan cepat membukanya, memeriksa isinya. Faye tersenyum licik. Bumi tempat mereka berpijak perlahan bergetar. Gempa susulan. Mereka terkejut. Zaki hendak menarik lengan Faye ketika lengan Faye yang satunya lagi mengeluarkan sebuah benda yang dikenalnya sebagai pistol dengan jenis Beretta 92FS. Sedetik kemudian, pistol itu terarah kepada Zaki. Waktu terasa berhenti detik itu juga. Seperti dalam film dengan gerakan slow motion, sosok pembunuh keluar dari mulut pistol itu, menghantam dada kirinya, nyaris mengenai jantungnya. Darah bercucuran, menyatu dengan air yang menggenang. Bumi bergetar lagi. Kali ini getarannya lebih hebat. Lemari-lemari besar runtuh disertai dengan tembok tua di ruang bawah tanah itu, menimpa mereka dan semua kenangan yang nyaris tak bersisa. --- “Thanks, Ki.” Faye bergumam pelan di tengah-tengah kesakitannya. Keningnya berdarah. Ia dan Zaki kini tergeletak bersama di bawah puing-puing reruntuhan . Bersebelahan. “Terima kasih buat apa?” tanya Zaki. Tangannya memegangi dada dengan berlumuran darah. Nafasnya tercekat. Mungkin inilah sekarat. Faye tidak langsung menjawab. Bibirnya mengulas senyum tipis. “Atas bantuanmu,” jawabnya, “dan karena kau sudah datang.” Tangan Faye yang masih menggenggam Beretta 92FS itu diarahkannya ke kepalanya. Timah panas itu menembus keningnya. Ia menembaki dirinya sendiri. Zaki menyaksikan gadis yang dicintainya itu dengan penuh kesedihan. Mata Faye terbuka dengan lebar. Darah mengaliri pipinya. Segaris senyum terukir di wajahnya. Mungkin inilah yang diinginkan Faye. Lalu Zaki menghembuskan nafas terakhirnya. ORIGINAL VERSION Zaki menarik lengan Faye. Baju gadis itu basah. “Kau basah semua, Faye!” ujarnya, lalu menempelkan punggung tangannya ke wajah Faye. “Dan badanmu panas. Nanti saja kita cari setelah air surut.” “Tidak!” nada bicara Faye tiba-tiba berubah tinggi. “Aku harus menemukannya sekarang!” Ditatapnya mata Faye dengan bingung. Mata itu membalasnya. Begitu gusar. Begitu ketakutan. Belum pernah dilihatnya Faye diliputi emosi seperti itu dan, mau tidak mau, Zaki menjadi iba. Ia menuruti kemauan gadis itu. “Oke, akan kubantu,” ujar Zaki, lalu Faye mengangguk. Berdua mereka mencari klise foto yang dimaksud oleh Faye. Setiap waktunya, Zaki menyadari genangan air di sekeliling mereka bertambah tinggi, namun Faye tidak peduli. Gadis itu membuka lemari yang ada satu per satu sementara Zaki memeriksa setiap laci di salah satu sisi ruangan. Setengah jam waktu berlalu sampai akhirnya ia berhasil menemukan plastik hijau yang tadi disebutkan oleh Faye di dalam sebuah laci. “Faye, ini yang kau cari?” Faye menghampirinya segera. Gadis itu merebut plastik di tangan Zaki, memeriksanya dengan penuh harap. Menemukan apa yang mereka cari di dalam plastik tersebut, di luar dugaan, gadis itu tidak sanggup berkata apa-apa. Faye menitikkan air mata, menangis sejadi-jadinya di hadapan Zaki, melepaskan ketakutan yang ditahan entah sejak berapa lama. Zaki tersenyum melihat reaksi Faye. Ditariknya tubuh gadis itu dengan lembut dan ia membiarkan Faye menangis di dadanya. --- “Thanks, Ki.” Faye bergumam pelan. Ia dan Zaki kini duduk bersama di lantai dua studio. Bersebelahan. Dua cangkir kopi hangat di hadapan mereka dan satu selimut yang mereka pakai berdua untuk menghangatkan diri. “Terima kasih buat apa?” tanya Zaki. Faye tidak langsung menjawab. Bibirnya mengulas senyum tipis. “Atas bantuanmu,” jawabnya, “dan karena kau sudah datang.”
|