![]()
|
Posted on: Minggu, 29 Juli 2012 @ 1:13 AM | 0 footprint(s)
Dengarkan Hatimu!
Dengarkan hatimu, kata beberapa orang ketika kita sedang berada di antara dua
atau lebih pilihan sulit yang membingungkan.
Sekarang aku sedang mengalaminya. Pikiranku menyerang egoku dengan
pernyataan 'aku tidak mencintainya' dan 'aku berusaha mencintainya karena ingin
menyembuhkan luka sebelumnya'... Entah.
Memikirkannya semalaman bisa membuatku anemia esok paginya.
..
....
......
Mungkin, sebenarnya itu bukan pilihan. Mungkin... dua pernyataan itu merupakan sebuah kalimat yang menyatu. Aku tidak mencintainya dan aku berusaha mencintainya karena ingin menyembuhkan luka sebelumnya.
Well, bagaimana jika pernyataan itu diganti
dengan pertanyaan seperti, 'apakah kau mencintainya?' dan 'apakah dia hanya
pelarian?'.
Pelarian? Apakah orang yang memperbaiki
hari-harimu setelah dikacaukan oleh seseorang yang kau anggap menjadikanmu
satu-satunya pilihan dalam hatinya, yang melukiskan senyum di wajahmu setelah
kau lupa arti senyum itu, yang membuatmu perlahan lupa akan kehadiran orang
yang lama itu, disebut pelarian? Jika iya, maka dia memang pelarian yang
berlari-lari di setiap detik dalam pikiranku tanpa jeda.
Lantas harus disebut apa aku ini? Entah. Memikirkannya semalaman bisa membuatku anemia esok
paginya.
Orang bilang.... dengarkan hatimu. Tapi bagaimana jika hatimu
sedang enggan bicara sebab jauh hari sebelumnya ia trauma hingga bungkam sekian
lama?
Entah. Memikirkannya semalaman mungkin bisa juga membuatmu anemia
esok paginya.
|