[+] Follow

Posted on: Minggu, 01 Juli 2012 @ 5:08 PM | 0 footprint(s)
Luka yang Serupa



Hujan selalu punya cara meramu rindu dan kamu dalam rasa yang serupa. Setelahnya, aku kembali lagi mengenang sambil menengok luka di sudut hati dan memastikannya baik-baik saja. Sejenak saja terlupa, luka yang terpelihara akan semakin menganga.

Kau bertanya, mengapa luka yang kau hadiahkan kemarin masih tetap terjaga? Aku hendak menjawab karena perihnya luka menyimpan memori yang menegaskan bahwa kau pernah ada, dan kita pernah nyata. Tapi mendadak kau mematikan rasa. Membisukan kata. Menghambur aksara yang tak sempat terjalin maknanya.

Langit perlahan berubah warna. Masa terus merangkak, bahkan menoleh ke belakang sedetik saja ia tak pernah. Sementara awan berarak pulang, senja masih tetap setia bertengger di atas sana. 

Back to top


Copyright ©. Layout by SekarYoshioka. Header : Pixiv and edited by SekarYoshioka. Please view it with Google Chrome 1024*768. All rights reserved.
F
o
l
l
o
w
H
o
m
e