![]()
|
Posted on: Minggu, 01 Juli 2012 @ 5:08 PM | 0 footprint(s)
Luka yang Serupa
Hujan selalu punya cara meramu rindu dan kamu dalam rasa yang
serupa. Setelahnya, aku kembali lagi mengenang sambil menengok luka di sudut
hati dan memastikannya baik-baik saja. Sejenak saja terlupa, luka yang
terpelihara akan semakin menganga.
Kau bertanya, mengapa luka yang kau hadiahkan kemarin masih
tetap terjaga? Aku hendak menjawab karena perihnya luka menyimpan memori yang
menegaskan bahwa kau pernah ada, dan kita pernah nyata. Tapi mendadak kau
mematikan rasa. Membisukan kata. Menghambur aksara yang tak sempat terjalin
maknanya.
Langit perlahan berubah warna. Masa terus merangkak, bahkan
menoleh ke belakang sedetik saja ia tak pernah. Sementara awan berarak pulang,
senja masih tetap setia bertengger di atas sana.
|