![]()
|
Posted on: Jumat, 20 Juli 2012 @ 10:22 PM | 0 footprint(s)
Simpul Mati
Menjejak. Berhenti. Mengingat. Berlari. Tanpa sadar terantuk
realitas hingga jatuh tersungkur. Ingin berhenti sejenak memikirkan, namun
bayangmu tak juga lepas dari ingatan. Menjerat hati yang mengemis kebebasan
untuk mencinta. Mengikat rasa yang mengamuk meminta balas. Ikat simpul mati.
Merengkuh pahit yang menjelma menjadi luka yang aduh, tanpa ingat mengejar
sembuh.
Bahkan sebelum mencapai batas asa, diam-diam egomu
menembakkan peluru kecewa, tepat di kepalaku. Seakan ingin mematikan semua
memori yang merekam adanya kenangan itu.
Kusebut itu kenangan karena ia membekas. Memberikan efek
melankolis ketika aku dipaksa mengingatnya. Mengenang kembali semua rangkaian
kata yang kau ucap demi meyakinkanku untuk sekedar membayang cinta sejenak
saja. Hanya sebentar, kemudian menggiringku ke dalam pusaran yang aku sendiri
tak tahu kapan berakhirnya.
Membuatku mencinta, merindu, dan segala perasaan
yang entah apa namanya itu. Membuatku tertidur, lalu membangunkanku untuk
sekedar menemanimu menikmati senja yang hanya sebentar. Kemudian kau akan
kembali pada malammu yang panjang. Bercumbu dengannya, merangkaikan kata
untuknya. Menjanjikan cinta yang serupa.
Melupakanku sejenak. Membiarkanku bertanya-tanya, mencari
keberadaanmu yang sengaja bersembunyi di balik sejuta alasan yang entah mengapa
selalu saja membuatku percaya, dan menunggumu untuk kembali datang.
Bukankah kau yang menjanjikan kebahagiaan untukku? Apapun
asal buatku bahagia. Bukankah itu janjimu? Yang kau uraikan dengan tatapan yang
seakan tulus itu? Nyatanya, matamu sangat pintar berjudi dengan perasaanku.
|