![]()
|
Posted on: Sabtu, 18 Agustus 2012 @ 2:24 AM | 0 footprint(s)
Pernah Kita...
Hubungan kita seperti sebuah ruang pelarian. Kita akan menuju
ke arahnya ketika semua terasa sulit. Kamu dan dia. Aku dan dia yang lain. Tak
ada arah lain. Kita selalu kembali kepada kisah yang bermula ketika rumah yang
kau bangun bersamanya mendadak tak berpenghuni.
Kadang-kadang, dia memilih bersembunyi. Kau mencarinya.
Ketika kau tidak mendapatkannya, segera kau berlari menuju tempat pelarian
kita, hubungan ini. Tanpa sengaja kau bertemu denganku yang sibuk merenungi
pertengkaran dengan dia yang baru saja membuat rumah kami berantakan.
Kemudian seketika kita merasa nyaman dengan ini. Setiap kali
kita terjebak dengan situasi yang serupa, kita akan kembali ke tempat pelarian
ini.
Di tempat ini kita saling mencari, lalu saling merangkai janji
untuk menulis kisah sendiri. Berhari-hari kita begini. Saling menarik hati
untuk berbagi. Tanpa kita sadari kita hidup dalam mimpi. Kenyataannya, kita
punya hidup yang harus kita jalani.
Hanya beberapa minggu, dan kita memutuskan untuk berhenti.
Padahal, aku sudah terlanjur berharap terlalu banyak. Melepaskanmu begitu saja
membuat hari-hariku tidak sama lagi. Setiap malam aku lewati dengan ingatan
tentangmu yang membayangi.
Kenapa begini? Harusnya aku menjadi seorang yang kuat, sekuat
kakiku yang berlari ke arahmu kala tiada tempat untuk melangkahkan kaki.
Bodohnya, malam-malamku habis percuma dengan merapal doa agar kau bahagia
bersamanya, dan aku akan berusaha membahagiakan dia. Akhirnya, kisah kita
menggantung begini. Seperti jemuran yang belum kering akibat hujan yang mencium
bumi.
Hahaha, sudah sejuta manusia yang mengatakan aku bodoh luar
biasa. Tapi, aku tidak. Aku hanya belum bisa menemukan seseorang yang benar-benar bisa
membuatku merelakanmu sepenuhnya. Belum menemukan dia yang bisa membuatku
tersenyum tulus ketika melihatmu dalam pelukannya.
Aku sudah berusaha sejauh ini. Berusaha sekeras mungkin untuk
tidak kembali ke ruang pelarian kita. Meskipun terkadang pada hari-hari
tertentu aku kembali menunggumu di sana.
Banyak hal-hal kecil yang sulit aku lupa.
Pernah aku membuat sketsa untukmu. Itu kamu, yang kau sambut
dengan tawa renyahmu. Kemudian sketsa-sketsa lainnya tercipta oleh gores
pensilku yang semakin menumpul. Kini, sketsa-sketsa itu sudah aku bakar
hidup-hidup bersama perasaanku. Tapi perasaanku bukan kertas yang bisa hangus
seperti sketsa-sketsa itu.
Pernah kau menuliskan namaku dalam indahnya huruf-huruf yang
melengket itu. Sekarang aku menempelkannya di permukaan laptopku. Aku tidak
ingin membiarkannya lepas, biarkan ia tetap di sana. Juga kau buat sederet
huruf yang membentuk namamu yang kini tersimpan dalam kotak kenanganku.
Pernah suatu malam aku melemparkan kertas yang sudah kusut
karena cengkraman tanganku. Ketika kau membukanya, kau tertawa. Ada gambarmu di
sana. Gambarmu terlalu banyak garisnya, aku berkata. Tidak seperti caraku yang
memainkan perasaan di dalam gambar-gambar yang aku hasilkan. Kau tertawa ketika
aku berkata bahwa aliran kita beda. Ada banyak tawa yang aku dengar setiap kita
berbicara.
Pernah kita berlomba dalam sebuah momen di sekolah. Aku
selalu berada di posisi pertama, dan kau di posisi kedua. Kau bilang aku hebat,
tapi aku lebih mengidolakanmu dari yang kau kira. Kau bilang kau mengagumiku,
namun kau tidak tahu aku lebih memujamu lebih dari rasa kagum-mu terhadapku.
Pernah juga suatu malam kau menyuruhku untuk tidak begadang.
Katamu, perempuan tidak boleh melakukannya. Ha! Aku benci setiap kali dilarang
menghabiskan malam dengan tetap terjaga. Tapi betapa hebatnya perasaan yang
bermekaran di dalam hatiku ini, ketika kau yang mengucapkannya, yang aku rasakan
hangat menjalar. Aku senang bahwa kau peduli. Memintaku menjaga kesehatan,
memintaku tidak bermain hujan, memintaku tidak terlalu larut begadang, meski
akhirnya kau menyerah dan menemaniku semalaman.
Pernah kau bernyanyi dengan suara serakmu, mencoba
menidurkanku. Sampai aku kasihan dan berpura-pura tidur membiarkan kamu
membisikkan ‘tidur nyenyak’ di ujung telepon itu. Kau selalu menyuruhku
bernyanyi. Aku tidak akan melakukannya. Suaraku jelek, aku tidak tahu bagaimana
cara memainkan nada itu sehingga bisa terdengar merdu di telingamu.
Pernah kita saling menatap, pernah kita tertawa bersama,
pernah kita berjalan bersisian. Kau selalu mengimbangi kecepatan jalanku yang tidak
karuan. Aku perempuan yang berjalan sangat cepat. Tapi ketika di sampingmu, aku
melambatkan setiap langkahku agar bisa lebih lama berada di dekatmu. Aku tidak
bisa membayangkan bagaimana anehnya cara jalanku waktu aku memperlambatnya
seperti itu. Tapi, pedulikah aku ketika ku tahu kau ada di sampingku, membuat
pipiku menggembung menahan rona yang memerah itu?
Ah, semua kenangan itu menghantam jurang kekecewaan begitu
aku tahu kau tidak akan pernah melepas dia yang menempatkanmu sebagai pacar
pertama di hatinya. Aku cemburu, padanya. Mengapa kita harus bertemu di ruang
pelarian itu untuk sekedar menumbuhkan harapan kemudian dihancurkan? Aku benci
itu. Aku benci ketika kita harus memutuskan untuk berhenti membuat kenangan
bersama-sama. Kita punya kenyataan yang tidak bisa ditinggalkan. Kita tidak
bisa lari dari kisah sebelumnya yang sudah terlanjur kita buat, sebesar apa pun
cinta yang kita punya, kita tetap tidak bisa lepas tanggung jawab.
Aku akan berjanji pada diriku sendiri, ini adalah tulisan
terakhir tentangmu, tentang kita, tentang ruang pelarian itu. Mungkin inilah
saatnya aku benar-benar melepaskan. Tidak lagi menyalahkan keadaan, atau
mengutuk waktu karena kita yang terlambat membuat kenangan.
Pernah kita saling mencinta, lalu terluka karenanya.
|