![]()
|
Posted on: Jumat, 21 Maret 2014 @ 11:15 PM | 0 footprint(s)
Ada
beberapa hal dalam hidup yang harus kita terima dengan lapang dada. Ada
juga beberapa yang ditangisi dulu, lalu menerima. Ada juga yang sedih
berkepanjangan sebelum akhirnya menerima. Menerima sepertinya menjadi
titik akhir dari semua. Ikhlas, rela, atau apapun namanya.
Saya tidak berharap pesan ini dibalas, atau dikomentari, atau ditimpali, atau apa saja yang berkaitan dengan hal ini. Saya butuh pembaca, yang saya yakini bisa mengeja ke-absurd-an pikiran saya. Mungkin saya sedng kacau, merasa marah terus-terusan , tak tahu harus berbuat apa sebab sesak di dalam dada menjelma sesuatu yang mendesak keluar dari mata. Saya tidak tahu, ini sedih, marah, kecewa, atau cemburu. Patah hati kali ini sungguh pilu. Membuat nafsu makan saya yang raksasa berubah menjadi kurcaci, menyebabkan badan saya kurusan (semoga tidak jadi lidi, sebab saya tidak suka menjadi kurus. Tidak sepertimu. Saya banyak menggambar akhir-akhir ini, sebab dengan begitu air mata yang saya punya mundur dengan teratur, karena saya menemukan semacam bahagia di antara goresan-goresan pensil saya, meskipun kacau dan shading-nya kurang pas, yang tiap malam menemani menghabiskan pikiran dan bercangkir-cangkir kopi yang membuat maag di pagi harinya. Terkadang ada hal-hal yang tidak kita ketahui yang menjadi penyebab nafas terasa berat, ingin menangis sejadi-jadinya, atau marah seharian. Boleh jadi libur yang berkepanjangan membuat sepi sunyi sendiri tiba mematikan akal. Saya. Tidak. Tahu. Padahal ini hanya 7 angka B yang muncul di antara lebih dari 7 angka A di transkrip nilai. Kekanak-kanakan sekali bukan jika saya ingin menangis hanya karena nilai B? Hahah. Iya, mungkin itu penyebabnya. -Juli, 2013
|