[+] Follow

Posted on: Minggu, 01 Juli 2012 @ 5:08 PM | 0 footprint(s)
Luka yang Serupa



Hujan selalu punya cara meramu rindu dan kamu dalam rasa yang serupa. Setelahnya, aku kembali lagi mengenang sambil menengok luka di sudut hati dan memastikannya baik-baik saja. Sejenak saja terlupa, luka yang terpelihara akan semakin menganga.

Kau bertanya, mengapa luka yang kau hadiahkan kemarin masih tetap terjaga? Aku hendak menjawab karena perihnya luka menyimpan memori yang menegaskan bahwa kau pernah ada, dan kita pernah nyata. Tapi mendadak kau mematikan rasa. Membisukan kata. Menghambur aksara yang tak sempat terjalin maknanya.

Langit perlahan berubah warna. Masa terus merangkak, bahkan menoleh ke belakang sedetik saja ia tak pernah. Sementara awan berarak pulang, senja masih tetap setia bertengger di atas sana. 

@ 1:46 AM | 0 footprint(s)
Kabut



Malam semakin larut, meninggalkan jejak sepi yang berkerut. Ruang kenangan kini berkabut, entah karena kamu atau rasa yang saling bertaut... Ataukah rindu yang tak mau surut?





Posted on: Kamis, 28 Juni 2012 @ 3:21 AM | 0 footprint(s)
Thank you



Hei...

Akhirnya kau tahu juga siapa aku. Katamu kau tidak akan pernah lupa setiap kata dariku, kau tidak akan pernah bisa lupa bagaimana caraku mengetikkan pesan untukmu. Ah, aku yang lupa bahwa kau tidak akan pernah lupa padaku. Maaf.

Terima kasih karena tidak membenciku. Terimakasih karena membuatku tidak terbebani dengan kesalahan di masa lalu yang membuatku berpikir kau akan membenciku dan melupakanku. Haha, lucu ya, mengingat betapa naifnya kita. 

Terima kasih untuk kesempatan memperbaiki hubungan kita lagi, untuk yang ketiga kali.


Posted on: Senin, 25 Juni 2012 @ 12:44 AM | 0 footprint(s)
Anonim


Aku menulis ini untukmu, yang telah lama tak terlihat, yang mungkin bersembunyi di suatu tempat. Berkelana bersama angin membawa memori masa lalu yang karat. Atau bermain petak-umpet bersama gugusan bintang di langit pekat.

Ingatkan aku untuk tidak mengungkit perasaan yang telah lama berlalu, atau yang sengaja kita biarkan berlalu.

Sudah dua tahun. Waktu yang cukup lama untuk melupakanku, bukan? 

Aku masih ingat postingan pertama di blog ini yang berisi tentangmu. Kemudian ‘kamu’ berubah menjadi dia yang kusebut juga ‘kamu’. Maksudku, ‘kamu’ yang bukan kamu. Kau mengerti? Ada banyak ‘kamu’ yang berbeda di sini.

Aku mendapatkan koneksimu beberapa minggu yang lalu, tapi baru kemarin aku berani menghubungimu. Lalu kukatakan bahwa aku hanya ingin tahu kabarmu. Kau bertanya siapa aku, namun aku hanya diam. 

Anonim, kataku. Sebut saja aku begitu. Dengan begitu, aku lebih leluasa menanyakan keberadaanmu.







Posted on: Selasa, 19 Juni 2012 @ 4:02 PM | 0 footprint(s)
Cukup



Sudah cukup. Terlalu banyak hal terselubung di balik rahasia yang tersembunyi di balik persahabatan kita. Sejak ada makhluk berbeda jenis yang turut dalam persahabatan ini, banyak yang saling curiga. Saling menyalahkan karena perasaan yang tak bisa dikendalikan.


Tentu saja aku lelah melihat kita yang seperti ini.



Posted on: Senin, 18 Juni 2012 @ 1:00 AM | 0 footprint(s)
Ternyata Kau...



Kali ini berbeda. Aku tidak lagi merasa terlalu senang ketika kau menelpon atau ketika layar ponselku tiba-tiba menampakkan sederet nomor tanpa nama milikmu. Aku merasa kehilangan sensasi magis dari pesonamu sejak 25 jam yang lalu.

Kau memberiku password facebookmu lalu menyuruhku melakukan sesuatu. Tanpa sengaja aku malah menemukan sesuatu, sebuah kenyataan. Ternyata kau begini, dan ternyata kau begitu. Ternyata kau tidak lebih dari seekor pecundang yang mengobral harapan sia-sia. Ternyata kau hanya bermain-main dengan perasaan. Ternyata aku begitu bodoh karena menggilaimu. Ternyata hatimu mendua, ah tidak.. tidak... kau tidak mendua. Ternyata ada empat perempuan bodoh yang rela menunggu untuk seekor pecundang sepertimu. Ah, sekarang aku mengataimu pecundang! Padahal 26 jam lalu kita sempat bertukar rindu dan basa-basi semu.

Sekarang aku tidak tahu harus berkata apa. Aku merasa tertipu!

Posted on: Rabu, 13 Juni 2012 @ 7:54 PM | 0 footprint(s)
Lagi



Berlari, kemudian berhenti untuk kembali lagi. Kembali pada jalan yang sebelumnya di lalui. Berlari menjauh lagi, lalu berhenti untuk kembali lagi. Berapa banyak lagi kata 'lagi' yang harus aku gunakan untuk membuatmu percaya bahwa hanya aku yang bisa membuatu bahagia, bukan dia



Posted on: Senin, 04 Juni 2012 @ 11:52 PM | 0 footprint(s)
Sempat Ada



Kau sempat ada. Sedetik, kemudian menghilang untuk beberapa lama. Membuatku menunggu dan bertanya-tanya, masihkah kau bertahan pada satu cinta itu? Pada perempuanmu itu, yang mencintaimu sedetik kemudian mengabaikanmu untuk beberapa lama.


Kita tidak berbalas pesan lagi. Ah, ya! Perempuanmu yang menggantikan posisiku, bukan? Tentu saja. Aku hanyalah jeda pada hubungan kalian. Aku harus memahami itu. 





Posted on: Minggu, 27 Mei 2012 @ 8:17 PM | 0 footprint(s)
Last Chapter




Tiba akhirnya kita harus mengeja PERPISAHAN.

Di hari kelulusan itu, kita tersenyum dan meneriakkan “LULUS” yang menggema di setiap sudut ruang kenangan dalam hati kita. Perlahan alur cerita membentuk di benakku. Teringat kembali setiap fase yang kita lalui ketika seragam putih abu-abu masih melekat di atas tubuh kita.

Kini seragam itu terlihat lusuh, menggantung di salah satu sudut kamarku dengan coretan dari kalian dan sepenggal kisah yang tidak akan terlupakan. Seumur hidupku.











Posted on: Rabu, 23 Mei 2012 @ 1:09 AM | 0 footprint(s)
Percakapan Kita


Aku merindu... pada percakapan-percakapan hangat kita yang sekarang menjadi beku. Dulu kau bercerita banyak hal. Tentang semua, juga tentang DIA. Membuatku candu.


Aku menginginkan percakapan itu lagi. Tentang semua, juga tentang DIA. Tidak mengapa jika percakapan kita hanya berisi tentang DIA, kalau memang itu yang bisa membuat kita kembali hangat seperti kemarin.


Posted on: Senin, 21 Mei 2012 @ 11:07 PM | 0 footprint(s)
Masih Nekat



Malam makin pekat. Bayangmu tak juga minggat, masih melekat erat.



@ 8:26 PM | 0 footprint(s)
Sebuah Pemikiran



Kamu harus berjanji padaku untuk selalu menjaganya. Untuk selalu ada di sampingnya kapanpun terlintas di pikiranku untuk membunuhnya.



@ 12:32 AM | 0 footprint(s)
Surat





Dear, MR. I


Hei, bagaimana kabarmu? Pasti baik. You are so happy right now, aren't you? Ya! Kamu pasti sangat bahagia.... bersamanya. Dan aku akan selalu mendoakan agar kamu bahagia, meski itu berarti tanpa aku. Walau itu berarti aku harus menjauh.


Rekor baru. Sudah empat hari kita tidak saling peduli. Atau mungkin kau yang benar-benar tidak peduli dan aku masih berusaha keras untuk tidak peduli. Bersikap tidak peduli seperti bunuh diri bagiku. Rasanya sulit menahan diri untuk tidak menghubungimu. Menahan jariku agar tidak menekan nomor-mu yang berada pada speed dial ponselku. Sudah berulang kali aku mencoba menyingkirkan nomor itu dari pikiranku, namun tidak bisa. Aku sudah terlanjur menghafalnya. Menghapusnya dari ingatanku sama dengan sulitnya menghapus namamu dari hatiku. Terlalu berlebihan, huh? Biar saja :p. 


Sekarang aku harus belajar agar terbiasa. Mulai menata jalan pulang, kembali pada kenyataan yang semestinya. Aku tidak akan membiarkanmu tahu betapa terlukanya aku. 


Pergilah dan jangan kembali lagi. Sebab aku lelah berjudi dengan perasaan ini.





Posted on: Kamis, 03 Mei 2012 @ 7:17 AM | 0 footprint(s)
Masih Seperti Ini




30 April 2012. Akhir April yang menyenangkan.


Keputusan yang aku buat sudah bulat, bukan lagi segitiga. Setiap perkataan yang kau ucap di malam akhir bulan itu tidak akan terlupa. Kau berdiri di sampingku. Untuk pertama kalinya, aku bisa mendengarkan helaan nafasmu yang berat sekaligus detak jantungku yang lebih cepat.

Kita saling berkata sayang walau status masih belum jelas. Apa arti status bagiku jika telah kudengar bahwa perasaan kita satu? Sudah terlanjur ada DIA. Aku tidak akan memintamu untuk meninggalkannya demi aku. Jangan. Itu bisa membuatku merasa bersalah seumur hidupku.


Kau menyalahkan waktu. Tolong jangan salahkan waktu. Ini semua karena kita yang terlambat tahu.


Tetaplah bersamanya. Dan aku tetap seperti ini, menunggumu.

Posted on: Selasa, 24 April 2012 @ 6:52 AM | 0 footprint(s)
Surprise! Dia datang!


 



 

 

 

 

 

 

 


Back to top


Copyright ©. Layout by SekarYoshioka. Header : Pixiv and edited by SekarYoshioka. Please view it with Google Chrome 1024*768. All rights reserved.
F
o
l
l
o
w
H
o
m
e